Kalangan ekonom Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2015 berada pada kisaran 4,8%. Berbeda dari target yang dipatok pemerintah yang diproyeksikan tumbuh 4,9%-5,2%. Berikut adalah indikator yang mereka sampaikan kepada publik.
Menurut Tony Prasetiantono, Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada 2015 paling tinggi sebesar 4,8%.
Tony mengatakan, "Soal pertumbuhan ekonomi overall 2015 paling banter 4,8%. Belanja pemerintah memang mulai kencang. Namun belanja masyarakat atau consumption spending masih rendah, meski mulai bergerak naik." (7/11/2015).
Nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi sepanjang 2015 ini, meski saat ini telah membaik, menyebabkan penurunan gairah masyarakat untuk berbelanja.
"Konfidensi konsumen cenderung masih lemah walaupun nilai tukar telah membaik," kata Tony.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun 2015, Toni yakini akan naik di atas 4,8%. Kendati demikian, perbaikan perekonomian itu belum cukup untuk mengangkat keseluruhan pertumbuhan ekonomi 2015 yang ditergetkan oleh pemerintah mencapai 5%.
"Kuartal IV ada perbaikan tapi itu belum cukup untuk mengangkat perekonomian secara keseluruhan bisa di atas 5% atau bahkan lebih. Jadi, saya pilih 4,8% saja," ucapnya.
Tony menambahkan terkait dengan ekspor, saat ini ada harapan sedikit naik karena depresiasi rupiah. Kendati demikian, peningkatan ekspor ini tidak akan tinggi karena harga komoditas primer yang masih anjlok.
Ekonom PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk Ryan Kiryanto juga memproyeksikan hingga akhir tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 4,8% hingga 4,9%.
Perkiraan tersebut karena konsumsi rumah tangga yang yang biasanya jadi bantalan utama pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) justru anjlok hingga di bawah 5%.
"Biasanya konsumsi rumah tangga selalu di atas 5%," ujarnya.
Sementara itu, belanja pemerintah belum optimal atau full capacity kendati telah mengalami peningkatan. Saat ini, lanjut Ryan, yang tersendat yakni Pertumbuhan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi langsung yang kontribusinya juga merosot di tengah perlambatan ekonomi.
Sementera itu, Enny Sri Hartati, Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2015 sebesar 4,8%. Angka pertumbuhan ini merupakan angka yang paling realistis.
Enny mengatakan, "Di sisa akhir tahun 2015 saya kira pertumbuhan ekonomi akan sulit untuk mencapai 5%, realistisnya antara 4,7%-4,8%."
Menurut Enny, perkiraan itu disebabkan lesunya pasar karena hingga hari ini harga kebutuhan pokok belum terkendali dan tingkat keyakinan konsumen yang belum maksimal meskipun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan.
Ia menambahkan, "Memang ada perbaikan, tapi yang jadi persoalan adalah yang mengalami perbaikan tetap saja itu bukan sektor tradeable, bukan sektor hasilkan barang tapi jasa, sehingga tidak meningkatkan daya beli masyarakat secara signifikan."
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada kuartal III/2015 tumbuh 4,73% (y-o-y), meningkat dari kuartal I/2015 yang sebesar 4,72% dan kuartal II/2015 sebesar 4,67%.
Secara kumulatif pertumbuhan ekonomi dari Januari hingga September (y-t-d) mencapai 4,71%.
Produk Domestik menurut pengeluaran secara tahunan ada di pengeluaran konsumsi pemerintah 6,56%, pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar 6,39%, pengeluaran konsumsi rumah tangga 4,96%, pembentukan modal tetap bruto sebesar 4,62%, ekspor sebesar -0,69 persen%, dan impor -6,11%.
kotasyariah



